Kegiatan


BNPT Gelar Diskusi Hasil Survei Nasional & Penelitian Eksplorasi Kearifan Lokal Melalui FKPT Riau

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama mengadakan Diseminasi hasil survei Nasional dan penelitian eksplorasi kearifan lokal melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Riau di Hotel The Premiere Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru, Rabu (21/8/2019).
 
Ketua FKPT Riau Eddie Yusti dalam sambutan sekaligus membuka acara secara resmi menuturkan pihaknya melalui Bidang Kajian dan Penelitian FKPT Riau telah melakukan survey di beberapa lokasi terutama daerah pesisir.
 
 
Kata Dia, kaitannya dengan kegiatan ini adalah menyempurnakan apa yang telah dilakukan yakni melakukan penelitian eksplorasi kearifan lokal oleh bidang kajian dan penelitian FKPT Riau. Meski masing-masing daerah mempunyai perbedaan kearifan lokal namun perbedaan itu tetap dalam Bhinneka Tunggal Ika dan dalam bingkai NKRI
 
“Kita membutuhkan masukan dalam diskusi ini terutama dari reviewer demi kesempurnaan penelitian yang kita lakukan sehingga bisa mendapat kanhasil yang baik,” ujarnya.
 
Mewakili Direktur Pencegahan BNPT Ir Hamli. M.E dalam sambutannya yang dibacakan Kasi Pengamanan Lingkungan Pemerintah BNPT Muriansyah Herman, S. Sos. M. Si dikatakan, penelitian dilakukan BNPT secara nasional yang melibatkan FKPT menghasilkan kesimpulan serupa, yakni pertama, potensi radikalisme di kalangan Perguruan Tinggi dan SMA/Sederajat secara nasional menunjukkan angka yang perlu diwaspadai, rerata skor 42.58 pada rentang 0 sampai 100, atau berada pada kategori SEDANG. Berdasarkan urutan yang paling rentan adalah SMA Negeri, Madrasah Aliyah Negeri, Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri, dan Perguruan Tinggi Umum.
 
Penelitian kita ini melangkah lebih jauh dengan mengelaborasi solusi. Kira-kira apa daya tangkal yang bisa mencegah, paling tidak menghambat laju intoleransi dan radikalisme? Adalah kearifan lokal dengan daya tangkal dengan tingkat signifikansi tertinggi. Masalahnya, hampir tidak ada dokumentasi yang lengkap dan utuh tentang kekayaan kearifan lokal di setiap daerah, kondisi ini menyulitkan inventarisasi, dalam upaya transfer of knowledge terhadap generasi berikutnya. Kemudian terjadi diskontinuitas pemahaman dan praktek tradisi dari generasi sebelumnya kepada generasi penerusnya, sehingga generasi milenial ini kurang memahami lokal genius-nya sendiri.
 
Padahal, di saat yang sama terpaan media sosial memberikan banyak pengaruh kepada masyarakat, khususnya generasi milenial. Oleh karena itu, perlu revitalisasi kearifan lokal sebagai pandangan hidup dalam masyarakat yang kohesif, dengan langkah-langkah berikut:
 
Melakukan inventarisasi atau pendokumentasian kearifan lokal nusantara, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai antidot virus radikalisme;
Melakukan redefinisi tentang kearifan lokal yang telah ada. Redefinisi ini dilakukan dengan mengangkat kembali dan mempertahankan makna-makna dasar kearifan lokal yang memperkuat kerukunan di tengah masyarakat, dengan sentuhan yang dekat dengan generasi milenial;
 
Melakukan reformulasi, terhadap kearifan lokal. Reformulasi ini adalah kemasan atau bentuk baru terhadap inti kearifan lokal yang telah hidup di tengah masyarakat agar diterima oleh generasi milenial;
 
Melakukan transfer of knowledge tentang kearifan lokal khususnya kepada generasi milenial, dengan memanfaatkan media sosial, sebagai sarana sosialisasi yang terbukti berperan signifikan dalam mempengaruhi masyarakat.
 
“Kunci keberhasilan berbagai upaya kita itu dipengaruhi paling tidak oleh 3 elemen, yaitu elemen pertama, penanaman Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, utamanya kepada generasi muda, generasi milenial. Kedua, sinergi seluruh komponen bangsa. Negara melalui aparat pemerintah tidak bisa sendirian dalam menindak dan mencegah terorisme, harus kerjasama. Dan elemen ketiga, penguatan nilai-nilai lokal mencegah paham radikal.  Nilai-nilai budaya dan kearifan lokal merupakan penguat solidaritas dan kohesifitas masyarakat,” terangnya.
 
Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Kajian FKPT Riau Dr Tohirin mengungkapkan, tujuan penelitian eksplorasi ini dilakukan agar didapatkan suatu inventarisasi kearifan lokal di setiap daerah di Indonesia, khususnya terkait budaya tutur lisan di Riau.
 
Menurutnya, kegiatan FKPT Indonesia cukup efektif dalam upaya menangkal potensi radikalisme masyarakatnya, namun belum optimal menyentuh seluruh lapisan karena adanya berbagai keterbatasan baik keterbatasan  kapasitas lembaga, maupun sumber daya yang dimilikinya.
 
Berdasarkan hasil kajian dan FGD dengan para pemangku kebijakan serta tokoh budaya di 32 provinsi, didapatkan konsep yang cukup komprehensif mengenai definisi dan dimensi kearifan lokal.
 
“Kearifan lokal sendiri terdiri atas 4 dimensi besar yaitu tata nilai/moral,  tutur lisan, tata ruang (landscape), dan kesenian. Dari keempat dimensi kearifan lokal tersebut, tutur lisan merupakan kearifan lokal yang paling tinggi pengaruh dan signifikansinya sebagai daya tangkal potensi radikalisme-terorisme,” tuturnya.
 
Sumber : Wiranesia